<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<!-- generator="FeedCreator 1.7.2" -->
<rss version="2.0" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom">
    <channel>
        <atom:link href="http://comensee.yolasite.com/guru/resources/guru.rss" rel="self" type="application/rss+xml" />
        <title>guru</title>
        <description>guru</description>
        <link>http://comensee.yolasite.com/guru/resources/guru.php</link>
        <lastBuildDate>Mon, 15 Jun 2026 11:00:03 +0100</lastBuildDate>
        <generator>FeedCreator 1.7.2</generator>
        <item>
            <title>RIWAYAT HIDUP SANG BUDDHA</title>
            <link>http://comensee.yolasite.com/guru/resources/guru/riwayat-hidup-sang-buddha-jul-12-2012-3-50-08-pm-8</link>
            <description>&lt;p style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;a class=&quot;&quot; href=&quot;http://comensee.yolasite.com/guru/resources/http://ipohchai.com/fo-guang-shan-dong-zen-temple-2010.php&quot;&gt;&lt;img class=&quot;yui-img&quot; src=&quot;http://comensee.yolasite.com/guru/resources/resources/1734-fgs-08-little-buddha.jpg&quot; style=&quot;width:325px;&quot;&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: center; font-family: yui-tmp;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(17, 17, 17);&quot; class=&quot;yui-tag-span yui-tag&quot;&gt;&lt;b&gt;PENDAHULUAN&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align:justify;&quot; align=&quot;justify&quot;&gt;Riwayat Hidup&lt;b&gt; &lt;/b&gt;Buddha
 Gotama yang dipaparkan di bawah ini hanyalah merupakan garis besar dari
 kehidupan Beliau dari kelahiran-Nya sebagai Pangeran &lt;i&gt;Siddhattha &lt;/i&gt;sampai Parinibbana (kemangkatan mutlak), serta beberapa peristiwa penting dalam kronologi pembabaran Dhamma oleh-Nya.&lt;span id=&quot;more-137&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align: center; font-family: yui-tmp;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(17, 17, 17);&quot; class=&quot;yui-tag-span yui-tag&quot;&gt;&lt;b&gt;KELAHIRAN BODHISATTA&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align:justify;&quot;&gt;Seorang Pangeran dilahirkan pada bulan 
purnama penuh di bulan Vesak (antara bulan Mei dan Juni) di sebuah hutan
 pohon sala ( shorea robusta ) taman bernama Lumbini di Kapilavatthu, 
India Utara (sekarang Nepal) pada sekitar abad ke-6 S.M (secara 
tradisional tahun 623 S.M. dan berdasarkan pada penanggalan “sejarah” 
pada tahun 563 S.M).&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align:justify;&quot;&gt;Ayahnya adalah Raja Suddhodana seorang 
bangsawan dari dinasti Sakya dan ibunya adalah Ratu Mahamaya seorang 
putri kerajaan dari dinasti Koliya.&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align:justify;&quot;&gt;Pada hari yang sama, lahir pula: Putri 
Yasodhara yang kelak menjadi isteri Sang Pangeran, Pangeran Ananda yang 
kelak menjadi pembantu tetap Sang Buddha, Channa tang kelak menjadi 
kusir Sang Pangeran, Kanthaka yang kelak menjadi kuda Sang Pangeran, 
Menteri Kaludayi yang kelak mengundang Sang Buddha untuk berkunjung 
kembali ke Kapilavatthu, Pohon Pippala atau disebut Pohon Bodhi ( Ficus 
Religiosa ), dan munculnya empat jambangan harta ( Nidhikumbhi ).&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align:justify;&quot;&gt;Kelahiran sang pangeran membawa 
kebahagiaan bagi seluruh kerajaan termasuk seorang petapa bernama Asita 
yang dikenal juga sebagai Kaladevala yang merupakan guru pribadi raja. 
Asita segera berkunjung ke istana Raja Suddhodana untuk melihat bayi 
tersebut. Ketika Petapa Asita telah tiba dan melihat adanya 32 tanda 
dari seorang Mahapurisa (Manusia Agung) pada bayi tersebut, ia 
memberikan hormat. Melihat hal ini Raja pun turut memberi penghormatan 
kepada putranya.&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align:justify;&quot;&gt;Setelah itu Petapa Asita tertawa gembira 
tetapi kemudian ia menangis. Hal ini karena ia merasa bahagia karena 
Pangeran kelak akan menjadi seorang Buddha, tetapi ia juga bersedih 
karena ia tidak bisa mendengarkan ajarannya karena usianya yang sudah 
tua dan ia tidak bisa menunggu bayi tersebut dewasa.&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align: center; font-family: yui-tmp;&quot;&gt;&lt;b style=&quot;color: rgb(17, 17, 17);&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(17, 17, 17);&quot; class=&quot;yui-tag-span yui-tag&quot;&gt;UPACARA PEMBERIAN NAMA&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align:justify;&quot;&gt;Lima hari setelah Sang Pangeran lahir, Ia
 diberi nama Siddhattha (dalam bahasa Pali) atau Siddhartha (dalam 
bahasa Sanskerta) yang berarti Tercapailah Segala Cita-cita-Nya, dan 
dengan nama keluarga Gotama (dalam bahasa Pali) atau Gautama (dalam 
bahasa Sanskerta).&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align:justify;&quot;&gt;Menurut tradisi India kuno maka diadakan 
upacara pemberian nama dengan mengundang para brahmana terpelajar. Di 
antara 108 brahmana yang diundang terdapat delapan brahmana yang 
terkemuka. Tujuh di antara mereka meramalkan ada dua kemungkinan bahwa 
Pangeran akan menjadi Raja Dunia atau menjadi seorang Buddha jika Ia 
melihat empat peristiwa, yaitu: orang tua, orang sakit, orang mati, dan 
petapa suci. Tetapi Kondanna, satu dari kedelapan brahmana itu, dan yang
 paling muda memastikan bahwa hanya ada satu kemungkinan yaitu Pangeran 
akan menjadi seorang Buddha.&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align: center; font-family: yui-tmp;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(17, 17, 17);&quot; class=&quot;yui-tag-span yui-tag&quot;&gt;&lt;b&gt;WAFATNYA RATU MAHAMAYA&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align:justify;&quot;&gt;Pada hari ketujuh setelah melahirkan 
Pangeran Siddhattha , Ratu Mahamaya wafat, dan adiknya Maha Pajapati 
Gotami yang juga isteri Raja Suddhodana menggantikan posisi Ratu Maha 
Maya sebagai ratu sekaligus ibu bagi pangeran kecil. Dari hubungan Raja 
Suddhodana dengan Maha Pajapati Gotami melahirkan seorang pangeran 
bernama Nanda dan seorang putri bernama Sundari Nanda ( Rupananda ).&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align:justify;&quot;&gt;Maha Pajapati Gotami merawat Pangeran 
Siddhattha seperti merawat putranya sendiri Pangeran Nanda . Pangeran 
Nanda sendiri lahir beberapa hari setelah Pangeran Siddhattha lahir.&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Setelah Ratu Maha Maya wafat, ia dilahirkan menjadi seorang putra dewa dengan nama Mayadevaputta (Santusita) di surga Tusita .&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: center; font-family: yui-tmp;&quot;&gt;&lt;b style=&quot;color: rgb(17, 17, 17);&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(17, 17, 17);&quot; class=&quot;yui-tag-span yui-tag&quot;&gt;FESTIVAL MEMBAJAK TANAH&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align:justify;&quot;&gt;Dalam rangka meningkatkan pertanian, Raja
 Suddhodana mengadakan festival pembajakan tanah dan mengajak pergi 
Pangeran Siddhattha yang telah berusia beberapa tahun ke perayaan 
tersebut. Dan Raja pun turut membajak bersama-sama dengan para petani.&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align:justify;&quot;&gt;Pada saat perayaan yang berlangsung 
meriah, para pengasuh yang ditugaskan untuk menjaga Pangeran merasa 
sangat tertarik dengan jalannya perayaan tersebut. Mereka ingin 
menyaksikannya dan akhirnya meninggalkan Pangeran di bawah bayangan 
pohon jambu. Dan pada saat itu suasana di sekitar pohon jambu tesebut 
menjadi tenang dan sepi sehingga sesuai untuk meditasi. Pangeran kecil 
pun duduk bersila dan melakukan meditasi.&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align:justify;&quot;&gt;Ketika para pengasuh kembali, mereka 
merasa heran sekali melihat Pangeran sedang bermeditasi, dan dengan 
cepat mereka melaporkannya kepada Raja. Raja dengan diiringi oleh para 
petani berbondong-bondong datang untuk menyaksikan peristiwa ganjil 
tersebut. Dan mereka pun menemukan Pangeran sedang duduk bermeditasi dan
 tidak menghiraukan kehadiran orang-orang yang datang memperhatikannya. 
Hal itu terjadi karena pada saat itu Pangeran berada dalam keadaan 
Jhana, yaitu keadaan dimana kesadaran sedang berkonsentrasi secara 
penuh. Melihat hal itu Raja memberi hormat untuk kedua kalinya kepada 
putranya tersebut.&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align: center; font-family: yui-tmp;&quot;&gt;&lt;b style=&quot;color: rgb(17, 17, 17);&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(17, 17, 17);&quot; class=&quot;yui-tag-span yui-tag&quot;&gt;MASA KANAK-KANAK DAN PENDIDIKAN&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align:justify;&quot;&gt;Semasa kecil, Pangeran Siddhattha hidup 
dalam kemewahan dan dirawat oleh para pengasuh sebaik mungkin. Seluruh 
pengiring-Nya muda-muda, berpenampilan menarik, cantik, tampan, dan 
berbadan lengkap. Jika ada yang sakit, maka orang itu tidak diijinkan 
tinggal di istana dan akan digantikan oleh orang lain. Sang pangeran di 
kenakan beraneka ragam perhiasan, kalung bunga, minyak wangi dan 
pernak-pernik yang semerbak. Tutup kepala, jubah, dan mantel-Nya 
seluruhnya didatangkan dari Negara Kasi. Untuk menyenangkan hati 
Pangeran Siddhattha, Raja Suddhodana membuatkannya tiga kolam teratai di
 istananya, yaitu Kolam Uppala dengan teratai birunya, Kolam Paduma 
dengan teratai merahnya, dan Kolam Pundarika dengan teratai putihnya.&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align:justify;&quot;&gt;Ketika Pangeran Siddhattha berusia tujuh 
tahun, Ia mulai menjalani pendidikan-Nya. Kedelapan brahmana terkemuka, 
yang dahulu diundang raja untuk meramalkan masa depan pangeran, menjadi 
guru-guru-Nya yang pertama. Setelah guru-guru tersebut mengajarkan semua
 pengetahuannya kepada pangeran, Raja Suddhodana mengutus-Nya untuk 
berguru kepada guru lain bernama Sabbamitta. Brahmana Sabbamitta yang 
tinggal di daerah Udicca, berasal dari keturunan terkemuka dan ahli 
dalam bahasa dan tata bahasa, serta fasih dalam Kitab Veda dan keenam 
Vedanga yang terdiri dari ilmu fonetik, ilmu persajakan, tata bahasa, 
ilmu tafsir, ilmu perbintangan, dan upacara keagamaan.&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align:justify;&quot;&gt;Sang Pangeran mampu mempelajari semua 
mata pelajaran yang Ia terima dari guru-Nya, termasuk ilmu kemiliteran, 
bela diri seperti tinju, gulat, anggar, dan berkuda. Ia adalah siswa 
yang terpandai dan terbaik dalam segala hal bahkan menjadi lebih pandai 
dari guru-guru-Nya. Ia adalah siswa yang paling bijak dan satu-satunya 
yang banyak bertanya kepada para guru dan kakak seperguruanNya. Ia juga 
anak yang terkuat, tertinggi, dan tertampan di kelas. Meskipun Pangeran 
Siddhattha adalah siswa yang terpandai, Ia tidak pernah lalai dalam 
bersikap santun dan memberikan penghormatan yang sepantasnya terhadap 
guru-guru-Nya.&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align:justify;&quot;&gt;Bodhisatta tidak pernah menyia-nyiakan 
waktu. Ketika Ia sedang tidak ada pekerjaan, Ia akan menyendiri di 
tempat yang tenang dan berlatih meditasi. Dan meskipun Ia juga terlatih 
dalam seni memanah dan dalam pemakaian senjata, tetapi Ia tidak suka 
melukai makhluk lain. Ia juga menghindari pembunuhan atau penganiayaan 
hewan jinak sekalipun, seperti kelinci dan kijang.&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align: center; font-family: yui-tmp;&quot;&gt;&lt;b style=&quot;color: rgb(17, 17, 17);&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(17, 17, 17);&quot; class=&quot;yui-tag-span yui-tag&quot;&gt;WELAS ASIH SANG PANGERAN&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align:justify;&quot;&gt;Sifat welas asih Pangeran Siddhattha 
tercermin dalam kehidupan sehari-hari-Nya seperti menghentikan dan 
menasihati seorang pelayan-Nya yang sedang memukuli seekor ular dengan 
tongkat.&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align:justify;&quot;&gt;Pada kesempatan lainnya, ketika pangeran 
sedang beristirahat di bawah pohon dalam waktu bermainnya bersama 
sahabat-sahabat-Nya dan juga sepupunya, Pangeran Devadatta, Ia tiba-tiba
 melihat seekor angsa jatuh dari angkasa. Ia tahu bahwa Pangeran 
Devadatta telah memanah angsa tersebut. Dengan segera Pangeran 
Siddhattha menolong si angsa. Pangeran Devadatta juga mengejar angsa 
itu, namun Pangeran Siddhattha berhasil terlebih dulu mengambil angsa 
itu dan dengan lembut Ia menarik anak panah yang menusuk angsa tersebut 
serta memberikan obat pada lukanya.&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Pangeran Devadatta yang baru saja tiba 
menuntut agar unggas itu diserahkan kepadanya, namun Pangeran Siddhattha
 menolaknya. Akhirnya terjadilah perselisihan dan saling debat. Pangeran
 Devadatta bersikukuh bahwa angsa itu adalah miliknya karena ia yang 
memanahnya. Sedangkan Pangeran Siddhattha mengatakan bahwa Ia yang 
berhak atas angsa itu karena Ia telah menyelamatkan hidupnya, sedangkan 
si pemanah tidak berhak akan angsa yang masih hidup tersebut. Akhirnya 
Pangeran Siddhattha mengusulkan agar permasalahan ini dibawa ke makamah 
para bijak untuk memperoleh jawaban atas siapa yang berhak atas angsa 
tersebut.&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align:justify;&quot;&gt;Setelah diajukan ke makamah para bijak, 
akhirnya salah satu dari para bijak tersebut berseru, Semua makhluk 
patut menjadi milik mereka yang menyelamatkan atau menjaga hidup. 
Kehidupan tak pantas dimiliki oleh orang yang berusaha menghancurkannya.
 Angsa yang terluka ini masih hidup dan diselamatkan oleh Pangeran 
Siddhattha. Karenanya, angsa ini mesti dimiliki oleh penyelamatnya, 
yaitu Pangeran Siddhattha!&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align: center; font-family: yui-tmp;&quot;&gt;&lt;b style=&quot;color: rgb(17, 17, 17);&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(17, 17, 17);&quot; class=&quot;yui-tag-span yui-tag&quot;&gt;PERNIKAHAN&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align:justify;&quot;&gt;Kekhawatiran Raja Suddhodana terhadap apa
 yang dikatakan oleh Petapa Asita dan terhadap ramalan Brahmana Kondanna
 mengenai Pangeran Siddhattha, berusaha membuat anaknya tersebut merasa 
nyaman dan bahagia. Segala hal-hal yang buruk dijauhkan dari diri 
anaknya termasuk hal-hal mengenai sakit, tua, mati, dan petapa. Selain 
itu raja juga membangun tiga buah istana untuk putranya pada setiap 
musimnya Istana Ramma untuk musim dingin, Istana Suramma untuk musim 
panas, Istana Subha untuk musim hujan.&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align:justify;&quot;&gt;Pada saat itu Pangeran Siddhattha berusia
 enam belas tahun, Ia tumbuh sebagai seorang pria muda yang tampan dan 
perkasa. Namun perangai-Nya yang suka merenung serta welas asih-Nya yang
 tanpa batas semakin jelas. Hal ini sangat membuat raja khawatir dan 
memanggil para penasihat istana untuk menemukan jawaban agar sang 
pangeran tetap mewarisi singgahsananya daripada menjadi seorang Buddha. 
Dan akhirnya diputuskan untuk mencari gadis tercantik dan menikahkannya 
dengan pangeran. Kemudian Raja Suddhodana memerintahkan untuk mengirim 
berita kepada delapan puluh ribu kerabat Sakya-nya dan meminta mereka 
untuk memperkenankan putri-putri mereka untuk datang ke istana agar 
pangeran dapat memilih salah satunya sebagai isteri.&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align:justify;&quot;&gt;Berita pemilihan isteri tersebut 
ditanggapi negatif oleh para pangeran Sakya yang beranggapan bahwa 
Pangeran Siddhattha tidak memiliki kemampuan sebagai seorang ksatria dan
 seorang pengecut yang tidak memiliki kemampuan seni bela diri dan seni 
berburu untuk melindungi dan mencari nafkah keluarganya kelak. 
Menanggapi hal ini Raja Suddhodana merasa sangat tersinggung dan menemui
 putranya serta menceritakan permasalahannya. Pangeran lalu berkata 
bahwa Ia akan mempertunjukkan kemahiran-Nya dalam pertandingan apapun, 
termasuk panahan dihadapan semua pangeran dan putri Sakya.&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align:justify;&quot;&gt;Dalam pertandingan, Pangeran Siddhattha 
akhirnya dapat mengalahkan semua lawannya dalam segala pertandingan. 
Dengan ini para pangeran dan putri Sakya akhirnya bergembira mengetahui 
hasilnya, sekaligus merasa tegang siapa yang akan dipilih pangeran untuk
 menjadi isteri-Nya. Akhirnya pilihan Pangeran Siddhattha jatuh pada 
Putri Yasodharã, sepupu-Nya yang cantik, putri Raja Suppabuddha dari 
kerajaan Koliya dan Ratu Amita, saudara perempuan Raja Suddhodana.&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align: center; font-family: yui-tmp;&quot;&gt;&lt;b style=&quot;color: rgb(17, 17, 17);&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(17, 17, 17);&quot; class=&quot;yui-tag-span yui-tag&quot;&gt;MELIHAT PERISTIWA AGUNG PERTAMA: ORANG TUA&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align:justify;&quot;&gt;Memasuki usiaNya yang kedua puluh delapan
 tahun, Pangeran Siddhattha tidak lagi merasa senang akan segala 
kemewahan dan hiburan di sekelilingNya. Ia menjadi jenuh dan ingin 
melihat dunia luar. Ia merasa penasaran untuk mengetahui kehidupan 
rakyat dan hal-hal di luar tembok istana. Setelah mendapatkan ijin dari 
ayahNya, Ia akhirnya keluar istana ditemani oleh Channa, kusir-Nya. 
Orang-orang ramai berdiri di kedua sisi jalan dan menyambut-Nya dengan 
hangat. Semuanya terasa semarak dan indah karena telah diperintahkan 
oleh raja untuk menyingkirkan hal-hal yang buruk dari tempat yang akan 
dilalui oleh pangeran.&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align:justify;&quot;&gt;Namun tidak lama kemudian, tiba-tiba 
seorang lelaki tua melintas di sepanjang jalan tanpa sempat dicegah. 
Sang pangeran sangat terkejut dengan apa yang tampak oleh-Nya. Ia sangat
 terkesima dan tidak mengetahui apa yang tengah dilihat-Nya, dan Ia 
bertanya kepada kusir-Nya, Channa, apa yang telah dilihatNya itu. Channa
 menjelaskan bahwa itu disebut dengan orang tua, orang yang tidak akan 
hidup lama lagi, dan semua orang tanpa kecuali akan mengalami hal itu 
tanpa bisa dicegah. Pangeran Siddhattha segera memerintahkan Channa 
untuk kembali ke istana karena Ia menjadi tidak bergairah lagi untuk 
berkeliling kota . Ia sangat sedih dan terguncang pikirannya oleh apa 
yang dilihat-Nya. Ia berpikir bahwa diri-Nya sendiri, istri-Nya, 
ayah-Nya, ibu angkat-Nya, dan semua orang yang dicintai-Nya akan menjadi
 tua. Ia ingin tahu apakah ada yang bisa mencegah dan mengatasi usia 
lanjut ini.&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align:justify;&quot;&gt;Mendengar apa yang terjadi pada putranya,
 raja menjadi khawatir dan sedih. Ia memerintahkan orang-orangnya untuk 
menambah penjaga di sekitar tempat itu dan untuk menambah pelayan wanita
 dan gadis penari untuk menghibur sang pangeran sepanjang waktu.&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align: center; font-family: yui-tmp;&quot;&gt;&lt;b style=&quot;color: rgb(17, 17, 17);&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(17, 17, 17);&quot; class=&quot;yui-tag-span yui-tag&quot;&gt;MELIHAT PERISTIWA AGUNG KEDUA: ORANG SAKIT&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align:justify;&quot;&gt;Empat bulan kemudian, Pangeran Siddhattha
 sekali lagi memohon kepada ayah-Nya untuk keluar istana. Namun Ia tidak
 ingin kunjungannya diumumkan atau dipersiapkan karena Ia ingin melihat 
segala hal, termasuk kehidupan sehari-hari rakyat-Nya. Raja Suddhodana 
mengijinkan-Nya dengan berat hati karena masih merasa gundah terhadap 
apa yang terjadi selama kunjungan pertama pangeran. Namun, karena cinta 
dan kasihnya kepada putranya, ia mengijinkan pangeran melakukan 
kunjungan untuk kedua kalinya.&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align:justify;&quot;&gt;Hari kunjungan pun tiba. Ditemani oleh 
Channa, pangeran menyamar sebagai pemuda dari keluarga bangsawan. Ia 
berjalan kaki melihat-lihat kehidupan rakyatnya secara apa adanya. Tidak
 ada penyambutan, panji-panji ataupun penebaran bunga. Semua rakyat 
sibuk dengan pekerjaannya sendiri untuk mencari penghidupan. Namun 
ketika Ia tengah berjalan, tiba-tiba terdengar suara seorang lelaki yang
 menangis tersedu-sedu karena kesakitan. Pangeran mencari sumber suara 
itu dan menemukan seorang lelaki yang sedang berbaring di tanah sambil 
memegang perutnya dan berguling-guling kesakitan, wajahnya penuh dengan 
noda-noda hitam. Ia berusaha memohon pertolongan, tetapi tidak ada yang 
memperdulikannya, sebaliknya orang-orang menghindarinya. Melihat hal ini
 pangeran merasa terguncang untuk kedua kalinya. Dengan penuh welas asih
 pangeran segera mendekati orang itu, tanpa bisa dicegah oleh Channa. 
Pangeran yang memangku kepala orang itu berusaha menenangkan dan 
bertanya apa yang terjadi, namun tanpa sepatah katapun keluar dari mulut
 orang itu. Akhirnya pangeran bertanya kepada Channa apa yang telah 
terjadi. Dan Channa pun menjawab bahwa orang itu sedang sakit dan semua 
orang tanpa kecuali akan mengalami hal itu. Mendengar hal itu, Pangeran 
Siddhattha sangat sedih mengetahui semua fenomena duniawi ini. Lalu, 
bersama dengan Channa , Ia kembali ke istana karena tidak lagi 
bersemangat meneruskan kunjungan-Nya.&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Setelah mengetahui apa yang telah terjadi
 selama kunjungan pangeran dari Channa, Raja Suddhodana kembali menjadi 
sedih dan memerintahkan kembali untuk memperbanyak penjaga dan jumlah 
pelayan dan gadis penari.&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: center; font-family: yui-tmp;&quot;&gt;&lt;b style=&quot;color: rgb(17, 17, 17);&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(17, 17, 17);&quot; class=&quot;yui-tag-span yui-tag&quot;&gt;MELIHAT PERISTIWA AGUNG KETIGA: ORANG MATI&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align:justify;&quot;&gt;Dengan menikmati kesenangan dan kemewahan
 hidup istana setelah kunjungan kedua, perasaan desakan spiritual yang 
dirasakan-Nya menjadi sedikit berkurang. Tetapi sekitar empat bulan 
kemudian, Pangeran Siddhattha kembali memohon untuk keluar dari istana 
untuk melihat kotanya kembali lebih dekat. Dengan berat hati raja pun 
mengijinkannya.&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align:justify;&quot;&gt;Seperti halnya kunjungan kedua, pangeran 
menyamar sebagai pemuda dari keluarga bangsawan dan juga ditemani oleh 
Channa yang juga berpakaian berbeda untuk menyembunyikan identitasnya. 
Di tengah perjalanan, tampak oleh-Nya iring-iringan orang tiba di jalan.
 Orang-orang tersebut mengusung sebuah tandu yang di dalamnya terdapat 
seorang lelaki kurus kering terbujur kaku dan ditutupi sehelai kain 
serta diiringi oleh orang-orang yang menangis. Merasa heran, pangeran 
bertanya kepada Channa mengenai orang yang terbaring di dalam tandu 
tersebut. Channa pun menjelaskan bahwa orang itu telah mati, semua orang
 pasti akan mati tanpa terkecuali.&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align:justify;&quot;&gt;Pemandangan yang tidak menyenangkan ini 
terjadi tanpa seorang pun mampu untuk mencegahnya. Pemandangan ini 
sungguh menyentuh hati pangeran selama kunjungan-Nya yang ketiga itu. 
Pangeran Siddhattha tidak lagi bergairah meneruskan kunjungan-Nya. 
Diiringi oleh Channa, dengan diam Ia kembali ke istana dan memasuki 
kamar-Nya sendirian. Ia duduk dan merenungkan dalam-dalam apa yang baru 
saja dilihat-Nya. Dalam hati Ia berkata: Alangkah mengerikannya! Setiap 
orang kelak akan mati dan tak seorang pun mampu mencegahnya. Harus ada 
cara untuk mengatasi hal ini. Akan Kucari cara agar ayah, ibu, 
Yasodhara, dan semua kerabat-Ku yang tercinta tak akan pernah menjadi 
tua, sakit, dan mati.&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align:justify;&quot;&gt;Channa kembali mengabarkan kepada raja 
bahwa pangeran buru-buru pulang setelah melihat mayat. Mendengar hal ini
 raja kembali menjadi sedih. Walaupun ia telah berusaha sekuatnya untuk 
mencegah putranya agar tidak melihat hal-hal yang tidak menyenangkan, 
penampakan yang tak terduga terjadi untuk ketiga kalinya sebagaimana 
yang diramalkan oleh kedelapan brahmana.&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align: center; font-family: yui-tmp;&quot;&gt;&lt;b style=&quot;color: rgb(17, 17, 17);&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(17, 17, 17);&quot; class=&quot;yui-tag-span yui-tag&quot;&gt;MELIHAT PERISTIWA AGUNG KEEMPAT: PETAPA&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align:justify;&quot;&gt;Pangeran Siddhattha lebih sering 
menyendiri dan merenungkan ketiga pemandangan yang telah dijumpai-Nya 
selama berkunjung ke kota . Namun, karena merasa belum puas dengan apa 
yang telah Ia ketahui sekarang, Ia menjadi sangat penasaran ingin 
mengetahui lebih lanjut sisi lain kehidupan, yang mungkin belum pernah 
dilihat-Nya. Sementara itu Raja Suddhodana senantiasa berusaha 
menyenangkan dan mengalihkan pikiran pangeran dari ketiga peristiwa 
tersebut. Untuk beberapa bulan, usaha raja nampak berhasil. Tetapi sifat
 ingin tahu dan suka merenung dari pangeran tidak mudah tergoyahkan oleh
 sumua hiburan yang ada dalam istana. Dan Empat bulan kemudian, Ia 
kembali memohon kepada ayah-Nya untuk diperkenankan keluar istana lagi 
untuk berwisata ke taman kerajaan dan melihat sisi lain dari kehidupan. 
Raja tidak memiliki alasan apapun untuk menolak permohonan santun 
putranya itu.&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align:justify;&quot;&gt;Ditemani oleh Channa, pangeran menuju 
taman istana melalui Kota Kapilavatthu. Setelah sampai di taman dan 
ketika pangeran tengah duduk dan menikmati taman tersebut, tampak 
oleh-Nya seorang lelaki dengan kepala yang dicukur bersih datang dari 
kejauhan. Dan pangeran pun bertanya kepada Channa siapakah orang itu. 
Channa menjawab bahwa oran itu adalah seorang petapa, seseorang yang 
meninggalkan kehidupan berkeluarga. Pangeran merasa terdorong untuk 
mengetahui lebih lanjut siapa petapa itu. Bagi-Nya, petapa itu tampak 
mengagumkan dan mulia, tidak seperti orang lainnya. Pangeran yang merasa
 tidak puas dengan jawaban Channa, mendekati petapa itu dan bertanya 
mengenai diri petapa tersebut. Petapa itu pun menjelaskan prihal 
dirinya.&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align:justify;&quot;&gt;Setelah pangeran mendengar penjelasan 
prihal diri petapa tersebut, bagaimana ia hidup, dan bagaimana ia 
menemukan jalan kebahagiaan atas dirinya, pangeran merasa bahagia dan 
menyadari bahwa adanya jalan sejati untuk mengatasi penderitaan hidup.&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;color:#0000ff;&quot;&gt; &lt;span style=&quot;color: rgb(17, 17, 17);&quot; class=&quot;yui-tag-span yui-tag&quot;&gt;LAHIRNYA RÃHULA&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Ketika Pangeran Siddhattha masih di dalam
 taman dan benak-Nya dipenuhi dengan gagasan untuk hidup bersih dan 
murni sebagai petapa, seorang kurir kerajaan yang diutus oleh Raja 
Suddhodana mengabarkan bahwa Putri Yasodhara telah melahirkan seorang 
bayi laki-laki yang tampan. Mendengar kabar ini, pangeran justru 
bersedih hati dan berujar: Sebuah belenggu telah terlahir bagi-Ku; 
ikatan besar telah timbul bagi-Ku ( Rãhulajãto, bandhanam jãtam 
)!Kelahiran tersebut merupakan halangan karena ia mencintai keluarga dan
 anak-Nya yang baru lahir. Ia berpendapat bahwa kemelekatan pada 
keluarga dan putra-Nya akan merintangi niat-Nya untuk menjadi petapa, 
seperti yang Ia inginkan. Mengetahui apa yang diutarakan pangeran saat 
menerima berita itu, Raja Suddhodana kemudian memberi nama bayi itu 
Rãhula, yang berarti belenggu.&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align:justify;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;%09http://www.ziddu.com/download/19909528/OSTSejarahBuddhaSakyamuniPedomanTeks.mp4.html&quot; target=&quot;new&quot;&gt;soundtrack &lt;/a&gt;&lt;br&gt;&lt;/p&gt;&lt;a style=&quot;font-family: yui-tmp;&quot; class=&quot;&quot; href=&quot;http://comensee.yolasite.com/guru/resources/http://bhagavant.com/home.php?link=sejarah&amp;amp;tipe=riwayat_buddha_1&quot; target=&quot;new&quot;&gt;Sumber &lt;/a&gt;</description>
            <pubDate>Fri, 13 Jul 2012 19:30:59 +0100</pubDate>
        </item>
        <item>
            <title>PENCAPAIAN PENCERAHAN SEMPURNA</title>
            <link>http://comensee.yolasite.com/guru/resources/guru/pencapaian-pencerahan-sempurna</link>
            <description>&lt;p style=&quot;font-family: yui-tmp; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a class=&quot;&quot; href=&quot;http://4.bp.blogspot.com/_2FU-VXvhvkw/TPj75h62mFI/AAAAAAAAA94/eimwMvWm9Ow/s1600/26113_1315765747037_1617511410_789254_4799828_n.jpg&quot;&gt;&lt;img class=&quot;yui-img&quot; src=&quot;http://comensee.yolasite.com/guru/resources/resources/GURU.JPG&quot; style=&quot;width:325px;&quot;&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;font-family: yui-tmp; text-align: center;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(17, 17, 17);&quot; class=&quot;yui-tag-span yui-tag&quot;&gt;&lt;b&gt;PELEPASAN KEDUNIAWIAN&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align:justify;&quot;&gt;Keempat peristiwa agung terjadi satu per satu. Apa yang telah diramalkan kedelapan brahmin cendekia menjadi kenyataan.&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align:justify;&quot;&gt;Di istana kediamannya, Raja Suddhodana 
tengah mengadakan pesta besar-besaran. Makan malam besar disajikan dan 
beberapa pelayan wanita cantik disiapkan untuk melayanisang pangeran 
untuk merayakan kelahiran cucu Raja Suddhodana – Rãhula, yang lahir pagi
 itu.&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align:justify;&quot;&gt;Sang pangeran, yang baru saja kembali dan
 perjalanan-Nya yang berbahagia, tampak lebih bahagia dibandingkan 
perjalanan sebelumnya. Ia berbahagia karena mengetahui bahwa cara untuk 
mencapai kebahagiaan sejati adalah dengan melepaskan keduniawian dan 
menjadi petapa.&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Bagaimanapun juga, pangeran tidak ingin 
mengecewakan ayah-Nya. Dengan tenang Ia menyantap makan malam tanpa 
merasa tertarik dengan nyanyian dan tarian yang disuguhkan untuk-Nya. 
Benak-Nya dipenuhi dengan keinginan untuk membebaskan semua makhluk dan 
usia tua, penyakit, dan kematian, yang semuanya menyengsarakan, menekan,
 dan menyedihkan.&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: center; font-family: yui-tmp;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(17, 17, 17);&quot; class=&quot;yui-tag-span yui-tag&quot;&gt;&lt;b&gt;MENINGGALKAN ISTANA&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align:justify;&quot;&gt;Sekitar pertengahan malam, Pangeran 
Siddhattha terbangun. Ia duduk bersilang kaki di bangku, lalu melihat 
sekeliling. Semua gadis penari, penyanyi, dan pemusik tengah tidur mlang
 melintang di lantai kamar itu. Pangeran merasa sangat jijik dengan 
pemandangan ini; mereka semua tak ada bedanya dengan mayat di pekuburan.&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align:justify;&quot;&gt;Pangeran Siddhattha, semakin tak melekat 
pada kelima objek kenikmatan indrawi, yang semuanya bukan merupakan 
kebahagiaan sejati, namun sebaliknya menimbulkan kesulitan dan derita 
yang lebih mendalam.&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align:justify;&quot;&gt;Tekad Pangeran Siddhattha semakin kuat. 
Inilah waktunya untuk meninggalkan kehidupan rumah tangga. Ia lalu 
meninggalkan kamar itu perlahan-lahan dan Ia melihat Channa, yang tengah
 tidur dengan membaringkan kepalanya di ambang pintu. Pangeran 
Siddhattha membangunkannya dan meminta untuk mempersiapkan Kanthaka, 
kuda-Nya.&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align:justify;&quot;&gt;Channa menaati permintaan-Nya. Segera Ia 
membawa tali kekang dan beberapa perlengkapan lainnya yang dibutuhkan, 
lalu menuju ke kandang kuda kerajaan. Sementara itu, Pangeran Siddhattha
 merasa bahwa Ia perlu menengok isteri dan putra-Nya yang baru lahir 
sebelum meninggalkan keduniawian.&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align:justify;&quot;&gt;Dengan hati penuh cinta, pangeran berdiri
 diam di pintu sambil memandangi mereka. Ia tak berani memindahkan 
tangan Putri Yasodhara dan menimang putra-Nya kendatipun Ia sangat ingin
 melakukannya, karena Ia tidak menginginkan Putri Yasodhara terjaga dan 
tidak mengijinkan-Nya pergi. Setelah bertekad bulat, Ia keluar dan kamar
 tersebut dan menutup pintu perlahan-lahan.&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align:justify;&quot;&gt;Channa dan Kanthaka sudah siap dan 
menunggu pangeran di depan istana kediaman-Nya. Pada malam purnama, 
bulan Asalha, 594 S.M, di usia ke 29 tahun, pada waktu jaga pertengahan 
malam, diam-diam Pangeran Siddhattha meninggalkan istana dengan 
menunggangi Kanthaka. Channa, yang terlahir pada hari yang sama dengan 
sang pangeran, ikut meninggalkan istana dengan berpegangan pada ekor 
kuda tersebut. Mereka berhasil menerobos ketatnya penjagaan dan 
meninggalkan Kota Kapilavatthu.&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align: center; font-family: yui-tmp;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(17, 17, 17);&quot; class=&quot;yui-tag-span yui-tag&quot;&gt;&lt;b&gt;MEMOTONG RAMBUT&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align:justify;&quot;&gt;Pangeran Siddhattha menunggangi si kuda 
putih Kanthaka yang melesat dengan kencang. Namun setelah sesaat 
perjalanan, sebuah gagasan muncul pada-Nya untuk memandangi 
Kapilavatthu. Ia menghentikan kuda istana itu dan membalikkan badan 
untuk memandangi kota tersebut untuk terakhir kalinya. Tepat di tempat 
kuda istana Kanthaka berhenti itu akhirnya dibangun sebuah kuil suci 
(cetiya) yang disebut Cetiya Kanthakanivatta. Setelah itu, Ia 
melanjutkan perjalanan-Nya melewati tiga kerajaan, yaitu: Sãkya, Koliya,
 dan Malla. Sepanjang malam, Ia menempuh jarak sejauh tiga puluh yojana 
(satu yojana setara dengan dua belas mil) Akhirnya Ia tiba di tepi 
Sungai Anoma dan menyeberanginya.&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align:justify;&quot;&gt;Saat itu hari telah pagi. Pangeran 
Siddhattha turun dan punggung Kanthaka. Ia meminta Channa untuk pulang 
kembali ke Kapilavatthu bersama dengan Kanthaka serta tanda kebesaran 
kerajaan, dan meninggalkan-Nya seorang diri. Channa memohon untuk 
mengikuti-Nya menjadi petapa, tapi Pangeran Siddhattha melarangnya. 
Setelah Pangeran Siddhattha menyerahkan Kuda Kanthaka beserta tanda 
kebesaran kerajaan-Nya, Ia menghunus pedang dan memotong rambut-Nya yang
 panjang. Lalu, dilemparkan-Nya rambut itu ke udara. Kini rambut-Nya 
sepanjang lebar dua jari dan tidak memanjang lagi sampai akhir 
hayat-Nya.&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align:justify;&quot;&gt;Setelah itu, Ia menukar pakaian-Nya 
dengan pakaian petapa, dan Ia memerintahkan Channa untuk segera kembali 
ke Kapilavatthu. Channa memberi sembah kepada Bodhisatta dengan sangat 
hormat, membawa serta tanda kebesaran kerajaan dan kuda kerajaan 
Kanthaka, lalu pergi meningggalkan Bodhisatta seorang diri.&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Dalam perjalanan pulang, Kanthaka yang 
bersedih sejak perpisahan itu, tidak lagi dapat menahan dukanya, dan 
akhirnya meninggal di perjalanan. Setelah berpisah dengan dua sahabat 
akrabnya, Channa akhirnya melanjutkan perjalanan ke Kapilavatthu sambil 
meratap dan menangis.&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color:#0000ff;&quot;&gt;&lt;b&gt; &lt;span style=&quot;color: rgb(17, 17, 17);&quot; class=&quot;yui-tag-span yui-tag&quot;&gt;MENJALANI PERTAPAAN&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align:justify;&quot;&gt;Setelah menjadi petapa, Bodhisatta 
tinggal di hutan mangga yang disebut Anupiya tidak jauh dari Sungai 
Anomã selama 7 hari pertama, dan kemudian Ia pergi menuju ke Rajagaha, 
ibukota Kerajaan Magadha.Di Rajagaha,Iamenolak tawaran Raja Bimbisara 
yang akanmemberikan separuh kekuasaannya setelah mengetahui identitas 
Bodhisatta.&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align:justify;&quot;&gt;Setelah itu, Ia melanjutkan perjalanan 
dengan menuruni Bukit Pandava dan menuju ke Kota Vesali, tempat seorang 
guru agama yang ternama, Alara Kalama yang tinggal bersama para 
siswanya. DisanaBodhisatta bergabung dan menjadi siswa dari Alara 
Kalama.&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align:justify;&quot;&gt;Dalam waktu singkat karena memiliki 
kepandaian yang luar biasa, Bodhisatta telah mampu menguasai ilmu yang 
diajarkan oleh Alara Kalama bahkan mencapai pencapaian yang sama dengan 
guru-Nya itu. Namun setelah merenungkan sifat dan manfaat dari 
pencapaian-Nya ini, Ia menyimpulkan bahwa ajaran yang Ia praktikkan 
tersebut tidaklah membawa pada Pembebasan Sejati. Oleh karena itu Ia 
mohon pamit kepada guru-Nya untuk melanjutkan pencariannya atas jawaban 
terhadap persoalan hidup dan mati, usia tua, dan penyakit, yang 
senantiasa dipikirkan-Nya.&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align:justify;&quot;&gt;Kemudian Bodhisatta meninggalkan Vesali 
dan berjalan menuju NegeriMagadha. Ia menyeberangi Sungai Mahi, dan 
sejenak kemudian sampai di sebuah pertapaan lain di tepi sungai itu. 
Pertapaan itu dipimpin oleh seorang guru agama yang sangat dihormati. 
Bernama Uddaka Ramaputta (Uddaka, putra Rama). Kemudian Bodhisatta pun 
bergabung dan menjadi siswa dari Uddaka Ramaputta. Dalam waktu yang 
singkat pula, Ia mampu menguasai ilmu yang diajarkan oleh Uddaka 
Ramaputta bahkan melampauinya. Namun, Bodhisatta segera mengetahui bahwa
 pencapaian-Nya itu bukanlah apa yang Ia cari. Karena tidak puas dengan 
pencapaian-Nya itu. Ia meninggalkan pertapaan Uddaka Ramaputta.&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align: center; font-family: yui-tmp;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(17, 17, 17);&quot; class=&quot;yui-tag-span yui-tag&quot;&gt;&lt;b&gt;PRAKTIK PERTAPAAN YANG KERAS&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align:justify;&quot;&gt;Setelah meninggalkan pertapaan Uddaka 
Ramaputta, Petapa Gotama menuju ke Senanigama (kotaniaga Senani) di 
Hutan Uruvela. Ketika disanalah Petapa Gotama bertemu dengan 5 orang 
petapa (pancavaggiya) yang terdiri dari Kondanna, Vappa, Mahanama, 
Assaji dan Bhaddiya.&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align:justify;&quot;&gt;Selama di Hutan Uruvela, Petapa Gotama 
menjalankan latihan tapa yang paling berat (dukkaracariya), yang sulit 
dipratikkan oleh orang biasa. Ia menyatakan tekad usaha kuat beruas 
empat yang dikenal sebagai padhana-viriya, sebagai berikut: “Biarlah 
hanya kulit-Ku yang tertinggal! Biarlah hanya urat daging-Ku yang 
tertinggal! Biarlah hanya tulang belulang-Ku yang tertinggal! Biarlah 
daging dan darah-Ku mengering!” Dengan tekad ini, Ia tak akan mundur 
sejenak pun, namun akan melakukan usaha sekuat tenaga dalam praktik itu.&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align:justify;&quot;&gt;Dalam praktik pertapaan yang keras 
tersebut, Petapa Gotama berlatih untuk mengurangi makan sedikit demi 
sedikit hingga tidak makan sama sekali. Karena melakukan hal tersebut, 
tubuh-Nya berangsur-angsur menjadi semakin kurus dan akhirnya hanya 
tinggal tulang belulang. Karena kurang makan, sendi-sendi dalam tubuh 
dan anggota tubuh-Nya menyembul seperti sendi rerumputan atau tanaman 
menjalar yang disebut asitika atau kala (Latin: Polygonum aviculare dan 
S. lacustris).&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align:justify;&quot;&gt;Enam tahun sudah Petapa Gotama 
menjalankan pertapaan yang keras dan tiba pada tahap kritis dimana Ia 
berada di ambang kematian. Hingga suatu hari ketika berjalan-jalan, Ia 
pingsan dan terjerembab karena tubuh-Nya dilanda panas yang tak 
tertahankan dan karena kurang makan berhari-hari. Ketika itu, seorang 
anak laki-lagi pengembala kebetulan lewat di tempat terjatuhnya Petapa 
Gotama. Setelah membangunkan Petapa Gotama, anak gembala itu menyuapkan 
air susu kambing bagi-Nya.&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align: center; font-family: yui-tmp;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(17, 17, 17);&quot; class=&quot;yui-tag-span yui-tag&quot;&gt;&lt;b&gt;MENCARI JALAN LAIN UNTUK MENCAPAI PENCERAHAN&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align:justify;&quot;&gt;Pada suatu sore, Petapa Gotama 
merenungkan bahwa Ia telah pulih kembali dan merasa lebih segar setelah 
jatuh pingsan pada hari sebelumnya – berkat susu kambing yang diberikan 
oleh anak laki-laki gembala itu. Jika tidak demikian, pastilah Ia sudah 
mati. Tatkala merenung seperti itu, sekelompok gadis penyanyi yang 
tengah berjalan menujukotaberlalu di dekat tempat Ia bermeditasi. Seraya
 berjalan, mereka berdendang: “Jika dawai kecapi ditala terlalu longgar,
 suaranya tak akan muncul. Jika dawai ditala terlalu kencang, dawai akan
 putus. Jika dawai ditala tidak terlalu longgar dan tidak terlalu 
kencang, kecapi akan menghasilkan suara merdu.”&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align:justify;&quot;&gt;Batin Petapa Gotama sungguh tergugah oleh
 syair tembang yang dilantunkan para gadis itu. Ia telah terlalu banyak 
menikmati kepuasan indrawi dengan segala kemewahannya selagi masih 
tinggal di istana dulu. Sebagaimana halnya dawai kecapi yang ditala 
terlalu longgar, demikian pula Pencerahan tak akan tercapai dengan 
pemanjaan diri. Ia juga telah menjalankan tapa sedemikian ketat hingga 
hampir mati. Sebagaimana halnya dawai kecapi yang ditala terlalu 
kencang, demikian pula Pencerahan tak dapat dicapai melalui penyiksaan 
diri.&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align:justify;&quot;&gt;Waktu itu adalah hari pertama bulan mati,
 Vesak, 588 S.M, ketika timbul pemikiran dalam diri Petapa Gotama yang 
menyadari bahwa praktik keras yang Ia lakukan selama ini tidaklah 
membawa pada Pencerahan. Setelah berpikir demikian, sejak saat itu 
Petapa Gotama selalu menuju kekotaniaga Senani untuk menerima dana 
makanan serta makan setiap pagi guna memulihkan kondisi tubuhnya. Dengan
 demikian Ia bisa melanjutkan pencarianNya dengan menggunakan latihan 
pengembangan anapana bhavana (meditasi memperhatikan napas) yang telah 
Ia lakukan semasa kecil di hari “Perayaan Bajak Kerajaan” yang 
diselenggarakan oleh ayah-Nya, Raja Suddhodana.&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align:justify;&quot;&gt;Kelima petapa, yang selama ini melayani 
Bodhisatta selama enam tahun dengan pengharapan yang tinggi, mulai 
berpikir: “Apa pun kebenaran yang telah disadari oleh Bodhisatta akan 
diajarkan-Nya kepada kami.” Namun sekarang, ketika tampak oleh mereka 
bahwa Bodhisatta telah mengubah cara latihan-Nya dengan menerima makanan
 apa pun yang dipersembahkan untuk-Nya, mereka menjadi muak dan 
menggerutu: “Bodhisatta telah memanjakan diri sendiri; Ia telah berhenti
 berjuang dan kembali menikmati kemewahan.”&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align:justify;&quot;&gt;Setelah itu, kelima petapa 
meninggalkan-Nya dan menuju ke Migadaya, Taman Rusa, di Isipatana, dekat
 Bãranasi (Benares). Setelah para petapa yang melayani-Nya meninggalkan 
diri-Nya, Petapa Gotama hidup menyendiri di Hutan Uruvela. Walaupun 
kehadiran mereka semasa perjuangan keras-Nya cukup membantu, namun Ia 
tidak berkecil hati ditinggalkan sendirian sekarang; malahan ini 
menguntungkan diri-Nya. Ia berdiam dalam suasana yang sangat terpencil, 
yang mendukung tercapainya kemajuan yang luar biasa serta pengembangan 
konsentrasi-Nya.&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align: center; font-family: yui-tmp;&quot;&gt;&lt;b style=&quot;color: rgb(17, 17, 17);&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(17, 17, 17);&quot; class=&quot;yui-tag-span yui-tag&quot;&gt;PENCAPAIAN PENCERAHAN SEMPURNA&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Setelah Petapa Gotama menerima 
persembahan nasi susu dari Sujata di pagi hari, pada hari keempat belas 
bulan Vesak, 588 S.M, Bodhisatta kemudian pergi menuju hutan sala di 
tepi Sungai Neranjara. Di sana Ia beristirahat sejenak dan melewati sisa
 hari itu di bawah naungan rindang sebatang pohon sãla sambil 
berkonsentrasi dalam anapana bhavana. Pada senja sore hari itu, kala 
udara terasa sejuk dan angin berhembus sepoi-sepoi, Ia menuju ke Hutan 
Gaya, ke kaki pohon bodhi (Pali: assattha; Latin: Ficus religiosa).
&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align:justify;&quot;&gt;Dalam perjalanan, Ia bertemu dengan 
seorang penyabit rumput bernama Sotthiya, yang tengah datang dan arah 
yang berlawanan seraya memikul rumput. Dia sangat terkesan oleh 
penampilan agung Petapa Gotama. Setelah tahu bahwa Petapa Gotama 
memerlukan sedikit rumput, dia lalu mempersembahkan delapan genggam 
rumput kusa kepada-Nya.&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align:justify;&quot;&gt;Sesampainya di pohon bodhi, Petapa Gotama
 memeriksa sekeliling untuk mencari tempat yang sesuai untuk 
bermeditasi. Setelah itu, Petapa Gotama duduk bersilang kaki dengan 
menghadap ke timur. Ia menyatakan tekad-Nya yang bulat: “Walaupun hanya 
kulit, urat daging, dan tulang-Ku yang tertinggal! Biarpun seluruh 
tubuh, daging, dan darah-Ku mengering dan berkerut! Aku tidak akan 
bangkit dari tempat duduk ini kecuali dan sampai Aku mencapai 
Kebuddhaan!”&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Setelah mengalami pergulatan batin yang 
berat selama beberapa waktu, akhirnya Petapa Gotama berhasil menundukkan
 rasa ngeri, keinginan duniawi, niat buruk, dan kekejaman. 
Kemenangan-Nya atas pergulatan batin ditandai dengan berjajarnya bulan 
purnama yang tengah menyingsing di ufuk timur dengan bulatan merah 
matahari yang tengah terbenam di ufuk barat. Bodhisatta akhirnya 
mengetahui bahwa itulah saat yang tepat untuk meneruskan perjuangan-Nya 
mencapai Pencerahan Agung. Pada malam bulan purnama, bulan Vesak, 588 M,
 Bodhisatta tetap duduk tenang memusatkan perhatian-Nya.&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align:justify;&quot;&gt;Setelah Ia memasuki jhana pertama, kedua,
 ketiga dan keempat dalam meditasi-Nya, pikiran-Nya yang terkonsentrasi 
menjadi murni, cermelang, tanpa noda, tanpa cacat, mudah ditempa, mudah 
dikendalikan, serta tak tergoyahkan. Saat itu Ia mengarahkan pikiran-Nya
 dan mencapai tiga pengetahuan.&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align:justify;&quot;&gt;Pengetahuan pertama merupakan pengetahuan
 melihat dengan jelas dan rinci kelahiran-kelahiran-Nya yang terdahulu 
(pubbenivasanussati ñana). Hal ini terjadi pada waktu jaga pertama, 
yaitu antara jam 18.00 sampai 22.00.&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align:justify;&quot;&gt;Pengetahuan kedua merupakan pengetahuan 
melihat dengan jelas kematian dan tumimbal lahir kembali makhluk hidup 
(dibbacakkhu ñana). Ia melihat makhluk-makhluk lenyap dan muncul kembali
 dalam kondisi rendah dan mulia, cantik dan buruk, mujur dan sial. Hal 
ini terjadi pada waktu jaga kedua, yaitu antara jam 22.00 sampai 02.00.&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align:justify;&quot;&gt;Pengetahuan ketiga merupakan pengetahuan 
akan penghancuran noda (asavakkhaya ñãna). Ia mengetahui secara langsung
 segala sesuatu sebagaimana adanya. Ia menyadari dan mencerap bahwa 
pikiran-Nya terbebas dari noda keinginan indrawi, noda kehidupan, dan 
noda kebodohan batin. Dan ketika Ia terbebas, muncullah pengetahuan 
bahwa Ia telah terbebas. Ia menyadari langsung bahwa kelahiran-Nya sudah
 dihancurkan; hidup suci sudah dijalankan; apa yang harus dilakukan 
sudah dilakukan; tiada lagi kelahiran kembali di alam mana pun juga. Hal
 ini terjadi pada waktu jaga ketiga, yaitu antara jam 02.00 sampai 
04.00. Ia mengetahui bahwa “inilah penderitaan”, bahwa “inilah sumber 
penderitaan”, bahwa “inilah berakhirnya penderitaan”, dan bahwa “inilah 
jalan menuju akhirnya penderitaan”.&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align:justify;&quot;&gt;Dengan tercapainya Pengetahuan Sejati 
Ketiga maka Bodhisatta mencapai Arahatta-Magga, menjadi Yang Sadar 
(Buddha), Yang Terberkahi (Bhagava), Yang Tercerahkan Sempurna 
(Sammasambuddha). Seiring dengan Pencerahan-Nya, Buddha juga memperoleh 
penegtahuan sempurna tentang Empat Kebenaran Ariya (Cattari Ariya 
Saccani).&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align:justify;&quot;&gt;Demikianlah menjelang fajar pada hari 
bulan purnama, Vesak 588 S.M, pada usia tiga puluh lima tahun, 
Bodhisatta mencapai Kemahatahuan dan menjadi Buddha dari tiga dunia 
dengan usaha-Nya sendiri.&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align: center; font-family: yui-tmp;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(17, 17, 17);&quot; class=&quot;yui-tag-span yui-tag&quot;&gt;&lt;b&gt;UNGKAPAN KEBAHAGIAAN&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align:justify;&quot;&gt;Dengan tercapainya Pencerahan Sempurna, 
Sang Buddha mengungkapkan kebahagiaan-Nya dengan melontarkan dua bait 
syair nyanyian pujian kebahagiaan (udana).&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align:justify;&quot;&gt;“Tak terhingga kali kelahiran telah Kulalui&lt;br&gt;
Untuk mencari, namun tak Kutemukan, pembuat rumah ini.&lt;br&gt;
Sungguh menyedihkan, terlahir berulang kali!”&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align:justify;&quot;&gt;“O pembuat rumah! Sekarang engkau telah terlihat!&lt;br&gt;
Engkau tak dapat membuat rumah lagi!&lt;br&gt;
Semua kasaumu telah dihancurkan!&lt;br&gt;
Batang bubunganmu telah diruntuhkan!&lt;br&gt;
Kini batin-Ku telah mencapai Yang Tak Terkondisi!&lt;br&gt;
Tercapai sudah berakhirnya nafsu keinginan!”&lt;/p&gt;&lt;a style=&quot;font-family: yui-tmp;&quot; class=&quot;&quot; href=&quot;http://comensee.yolasite.com/guru/resources/http://bhagavant.com/home.php?link=sejarah&amp;amp;tipe=riwayat_buddha_1&quot; target=&quot;new&quot;&gt;Sumber &lt;/a&gt;</description>
            <pubDate>Fri, 13 Jul 2012 05:40:27 +0100</pubDate>
        </item>
        <item>
            <title>PEMUTARAN RODA DHAMMA</title>
            <link>http://comensee.yolasite.com/guru/resources/guru/pemutaran-roda-dhamma</link>
            <description>&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;img class=&quot;yui-img&quot; src=&quot;http://comensee.yolasite.com/guru/resources/resources/toa_20sen_20va_20luan_20xa_201.gif&quot;&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style=&quot;text-align: center; font-family: yui-tmp;&quot;&gt;&lt;b style=&quot;color: rgb(17, 17, 17);&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(17, 17, 17);&quot; tag=&quot;span&quot; class=&quot;yui-tag-span yui-tag&quot;&gt;PEMUTARAN RODA DHAMMA&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align:justify;&quot;&gt;Setelah mencapai Pencerahan Sempurna, 
muncul dalam pikiran-Nya mengenai betapa dalamnya, sungguh halus Dhamma 
yang telah ditemukan-Nya. Ia mempertanyakan apakah manusia dapat 
memahaminya. Namun setelah dengan welas asih-Nya Ia melihat bahwa ada 
manusia yang dapat memahami Dhamma yang ditemukan-Nya, maka Sang Bhagava
 memiliki niat kuat untuk menyebarkan Dhamma. Kemudian Ia berkata: 
“Pintu menuju tiada kematian, Nibbana, sekarang telah tebuka. Akan 
Kubabarkan Dhamma kepada semua makhluk agar mereka yang memiliki 
keyakinan dan pendengaran yang baik bisa sama-sama memetik manfaatnya.”&lt;/p&gt;

&lt;p style=&quot;text-align:justify;&quot;&gt;Setelah memantapkan niat untuk 
mengajarkan Dhamma, Sang Bhagava lalu menimbang-nimbang kepada siapakah 
Ia perlu mengajarkan Dhamma untuk pertama kalinya, siapakah yang akan 
segera memahami Dhamma yang Ia temukan. Lalu Ia berpikir bahwa Alara 
Kalama, salah satu guru-Nya adalah orang yang bijaksana, terpelajar, dan
 berpikiran tajam, serta sedikit debu saja di matanya. Jika Ia 
mengajarkan Dhamma pertama kalinya kepadanya, Alara Kalama akan segera 
memahaminya. Namun kemudian Sang Bhagava mengurungkan niat-Nya setelah 
menyadari bahwa Alara Kalama telah meninggal tujuh tahun yang lalu.&lt;/p&gt;

&lt;p style=&quot;text-align:justify;&quot;&gt;Kemudian, Sang Bhagava berpikir tentang 
guru-Nya yang lain, Uddaka Ramaputta, namun lagi-lagi Sang Bhagava 
mengurungkan niat-Nya setelah menyadari bahwa Uddaka Ramaputta telah 
meninggal kemarin malam.&lt;/p&gt;

&lt;p style=&quot;text-align:justify;&quot;&gt;Akhirnya Sang Bhagava memikirkan kelima 
petapa (pancavaggiya) yang melayani-Nya semasa Ia melakukan tapa berat 
di Hutan Uruvela. Dengan Mata Buddha-Nya yang murni melampaui kemampuan 
pandang manusia, Ia mengetahui bahwa mereka tengah berdiam di Taman Rusa
 di Isipatana, di Petirahan Para Waskita, dekat Baranasi. Demikianlah, 
setelah tinggal di Uruvela selama yang dikehendaki-Nya, Ia berjalan 
menuju Baranasi, yang berjarak delapan belas yojana.&lt;/p&gt;

&lt;p style=&quot;text-align: center; font-family: yui-tmp;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(17, 17, 17);&quot; tag=&quot;span&quot; class=&quot;yui-tag-span yui-tag&quot;&gt;&lt;b&gt;LIMA SISWA PERTAMA&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Pada senja yang sejuk, hari bulan purnama
 Asalha, 588 S.M, Sang Bhagava tiba di Migadaya, Taman Rusa di 
Isipatana. Kemudian, ketika kelima petapa melihat Sang Bhagava semakin 
dekat, mereka mulai memperhatikan bahwa Ia tidak tampak seperti Petapa 
Gotama yang dulu mereka layani di Hutan Uruvela selama enam tahun. 
Mereka melihat bahwa tubuh-Nya bercahaya cemerlang tiada banding, dan 
mereka juga mendapatkan kesan tenteram dan damai dari diri-Nya. Tak 
seorang pun di antara mereka yang sadar apa yang tengah terjadi karena 
mereka akhirnya tak kuasa menaati kesepakatan awal mereka yang menolak 
menghormati-Nya. Dengan segera mereka berdiri. Salah satu mendekati-Nya 
dan membawakan mangkuk serta jubah luar-Nya; yang lain menyiapkan tempat
 duduk; yang lainnya membawakan air, tatakan kaki, dan handuk untuk 
mencuci kaki-Nya. Dan setelah Sang Bhagava duduk, mereka memberikan 
hormat dan menyapa-Nya.&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align:justify;&quot;&gt;Setelah itu, Sang Bhagava menyatakan 
bahwa diri-nya telah berhasil mengatasi kelahiran dan kematian dalam 
hidup ini dan akan mengajarkan Dhamma yang Ia temukan kepada mereka. Dan
 setelah kelima petapa itu dapat diyakinkan oleh Sang Bhagava, kelima 
petapa itu duduk diam, dan siap menerima petunjuk-Nya.&lt;/p&gt;

&lt;p style=&quot;text-align:justify;&quot;&gt;Sang Bhagava membabarkan kotbah 
pertama-Nya, Dhammacakkappavattana Sutta (Kotbah Mengenai Pemutaran Roda
 Dhamma). Dalam khotbah ini, Sang Bhagava membabarkan kepada kelima 
petapa tersebut bahwa terdapat dua ekstrem – yaitu pemanjaan diri dan 
penyiksaan diri – yang harus dihindari oleh orang yang telah 
meninggalkan keduniawian. Ia membabarkan Empat Kebenaran Mulia. Ia juga 
menunjukkan latihan Jalan Tengah, yang terdiri dan delapan faktor, yaitu
 Jalan Mulia Berfaktor Delapan.&lt;/p&gt;

&lt;p style=&quot;text-align:justify;&quot;&gt;Kelima petapa mendengarkan dengan saksama
 dan membuka hati mereka terhadap ajaran-Nya. Dan ketika khotbah itu 
tengah dibabarkan, pandangan tanpa noda dan murni terhadap Dhamma muncul
 dalam diri Kondañña. Ia memahami: “Apa pun yang muncul, pasti akan 
berlalu (yam kiñci samudayadhammam sabbam tam nirodhadhammam)”. 
Demikianlah, ia menembus Empat Kebenaran Mulia dan mencapai tataran 
kesucian pertama (Sotapatti) pada akhir pembabaran itu. Karena itu, ia 
juga dikenal sebagai Aññata Kondañña – Kondañña yang mengetahui. Lalu ia
 memohon penahbisan lanjut (upasampada) kepada Sang Bhagava. Untuk itu, 
Sang Bhagava menahbiskannya dengan berkata: “Mari, Bhikkhu! Dhamma telah
 dibabarkan dengan sempurna. Jalanilah hidup suci demi berakhirnya 
penderitaan secara penuh”. Dengan demikian, ia menjadi bhikkhu pertama 
dalam Buddha Sasana melalui penahbisan Ehi Bhikkhu Upasampadã, 
“Penahbisan Mari Bhikkhu”.&lt;/p&gt;

&lt;p style=&quot;text-align:justify;&quot;&gt;Setelah itu, tatkala ketiga petapa 
lainnya pergi menerima dana makanan, Sang Bhagava mengajarkan dan 
memberikan bimbingan Dhamma kepada Vappa dan Bhaddiya. Mereka akhirnya 
menjadi murni dan mencapai tataran kesucian Sotapatti. Dengan segera 
mereka memohon untuk ditahbiskan sebagai bhikkhu di bawah bimbingan¬Nya.
 Keesokan harinya, Mahanama dan Assaji juga menembus Dhamma dan menjadi 
Sotapanna. Tanpa jeda lagi mereka juga memohon penahbisan lanjut dari 
Sang Bhagava dan menjadi bhikkhu. Dengan demikian, kelima petapa itu 
menjadi lima siswa bhikkhu yang pertama, yang juga dikenal sebagai 
“Bhikkhu Pancavaggiya” Sejak saat itu, Persamuhan Bhikkhu (Sangha 
Bhikkhu) terbentuk.&lt;/p&gt;

&lt;p style=&quot;text-align:justify;&quot;&gt;Setelah kelima bhikkhu itu menjadi 
Sotapanna, pada hari kelima Sang Bhagava membabarkan Anattalakkhana 
Sutta (Khotbah Mengenai Tiadanya Inti Diri), yang dibabarkan sebagai 
tanya-jawab antara Sang Bhagava dan kelima siswa suci-Nya. Pada intinya,
 Ia menyatakan bahwa bentuk (rüpa), perasaan (vedanna), pencerapan 
(sañña), bentukan batin (sañkhara), dan kesadaran (viññana) adalah 
selalu berubah; dan apa yang selalu berubah tidaklah memuaskan (dukkha).
 Kemudian, kesemuanya ini yang selalu berubah dan tidak memuaskan, harus
 dilihat sebagaimana adanya dengan pengertian benar: “Ini bukan milikku 
(n’etam mama); ini bukan aku (n’eso’hamasmi); ini bukan diriku (na m’eso
 atta)”.&lt;br&gt;
Mendengar kata-kata-Nya, kelima bhikkhu tersebut menjadi gembira dan 
bahagia. Dan setelah Sang Bhagava membabarkan khotbah mi, pikiran mereka
 terbebas dan kotoran batin, tanpa kemelekatan; mereka mencapai tataran 
Arahat.&lt;/p&gt;

&lt;p style=&quot;font-family: yui-tmp; text-align: center;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(17, 17, 17);&quot; tag=&quot;span&quot; class=&quot;yui-tag-span yui-tag&quot;&gt;&lt;b&gt;PARA MISIONARI BUDDHIS PERTAMA&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p style=&quot;text-align:justify;&quot;&gt;Setelah Sang Bhagava memberikan 
Pencerahan kepada kelima Petapa, Beliau bersama kelima siswa pertama-Nya
 itu berdiam di Taman Rusa di Isipatana untuk melewati musim hujan. Dan 
ketika Sang Bhagava sedang berjalan-jalan ditempat terbuka, Ia bertemu 
putra seorang saudagar kaya, bernama Yasa yang mengalami kegundahan 
batin terhadap kehidupannya dan pergi dari rumahnya. Yasa tidak lain 
adalah putra dari Sujata dari Senanigama, seorang wanita yang pernah 
mempersembahkan nasi susu kepada Bodhisatta sebelum Pencerahan-Nya.&lt;/p&gt;

&lt;p style=&quot;text-align:justify;&quot;&gt;Setelah bertemu dengan Sang Bhagava, Yasa
 mendengarkan Dhamma yang dibabarkan oleh Sang Bhagava dengan saksama. 
Dan ketika batinnya sudah siap, bisa menerima, bebas rintangan, 
bersemangat, dan yakin, Sang Bhagava membabarkan Empat Kebenaran Arya.&lt;/p&gt;

&lt;p style=&quot;text-align:justify;&quot;&gt;Ketika ayah Yasa mencari putranya yang 
telah pergi dari rumah, ia pun bertemu dengan Sang Bhagava. Kemudian 
Sang Bhagava juga mengajarkannya ajaran bertahap dan Empat Kebenaran 
Arya seperti yang telah dilakukan-Nya terhadap Yasa. Setelah pembabaran 
Dhamma selesai, ayah Yasa mencapai Sotapanna dan berlindung pada 
Tiratana (Buddha, Dhamma dan Sangha), dan Yasa pun mencapai tataran 
Arahat dan menjadi bhikkhu.&lt;/p&gt;

&lt;p style=&quot;text-align:justify;&quot;&gt;Selanjutnya berturut-turut, keluarga ibu 
Yasa dan mantan istri Yasa menembus Dhamma dan menjadi Sotapanna setelah
 Sang Bhagava mengajarkan Dhamma kepada mereka ketika ayah Yasa 
mengundang Sang Bhagava ke rumahnya.&lt;/p&gt;

&lt;p style=&quot;text-align:justify;&quot;&gt;Begitu pula kelima puluh empat teman Yasa
 yang empat diantaranya adalah sahabat karib Yasa yang bernama Vimala, 
Subahu, Punnaji, dan Gavampati, mereka juga menerima pengajaran dari 
Sang Bhagava, menerima penahbisan menjadi bhikkhu, dan mencapai tataran 
Arahat.&lt;/p&gt;

&lt;p style=&quot;text-align:justify;&quot;&gt;Demikianlah, pada saat itu terdapat enam 
puluh satu Arahat di dunia, yaitu, Buddha, Bhikkhu Pancavaggiya, Bhikkhu
 Yasa, dan kelima puluh empat sahabat Yasa.&lt;/p&gt;

&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Pada saat berakhirnya tiga bulan masa 
kediaman musim hujan (vassana), Sang Bhagava telah mencerahkan enam 
puluh tiga orang. Di antara mereka, enam puluh orang mencapai tataran 
Arahat dan memasuki Persamuhan Bhikkhu, sementara yang lainnya – ayah, 
ibu, dan mantan istri Yasa menjadi Sotapanna dan terkukuhkan sebagai 
siswa awam sampai akhir hayat mereka. Kemudian, Sang Bhagava bermaksud 
menyebarkan Dhamma kepada semua makhluk di alam semesta, tanpa memandang
 apakah mereka adalah dewa ataupun manusia, tanpa memandang apakah 
mereka berkasta tinggi, rendah, atau paria; tanpa memandang apakah 
mereka raja ataupun pelayan, kaya ataupun miskin, cantik ataupun buruk, 
sehat ataupun sakit, patuh ataupun tidak patuh pada hukum.&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align:justify;&quot;&gt;Kemudian Sang Bhagava berkata kepada 
keenam puluh bhikkhu Arahant tersebut: “Para Bhikkhu, Saya telah 
terbebas dan semua ikatan yang mengikat makhluk hidup, baik para dewa 
maupun manusia. Kalian juga telah terbebas dan semua ikatan yang 
mengikat makhluk hidup, baik para dewa maupun manusia. Pergilah, para 
Bhikkhu, demi kesejahteraan dan kebahagiaan banyak makhluk, atas dasar 
welas asih kepada dunia, demi kebaikan, kesejahteraan, dan kebahagiaan 
para dewa dan manusia (caratha, bhikkhave, carikam bahujanahitaya 
bahujanasukhaya lokanukampaya atthtaya hitaya sukhaya devamanussanam). 
Janganlah pergi berdua dalam satu jalan! Para Bhikkhu, babarkanlah 
Dhamma yang indah pada awalnya, indah pada pertengahannya, dan indah 
pada akhirnya, dalam makna maupun isinya. Serukanlah hidup suci, yang 
sungguh sempurna dan murni. Ada makhluk dengan sedikit debu di mata yang
 akan tersesat karena tidak mendengarkan Dhamma. Ada mereka yang mampu 
memahami Dhamma. Para Bhikkhu, Saya sendiri akan pergi ke Uruvela di 
Senanigama untuk membabarkan Dhamma.”&lt;/p&gt;

&lt;p style=&quot;text-align:justify;&quot;&gt;Demikianlah, Yang Terberkahi mengutus 
keenam puluh siswa¬Nya yang telah tercerahkan untuk mengembara dan satu 
tempat ke tempat lain. Ini menandakan karya misionari pertama dalam 
sejarah umat manusia. Mereka menyebarluaskan Dhamma yang luhur atas 
dasar welas asih terhadap makhluk lain dan tanpa mengharapkan pamrih apa
 pun. Mereka membahagiakan orang dengan mengajarkan moralitas, 
memberikan bimbingan meditasi, dan menunjukkan manfaat hidup suci.&lt;/p&gt;

&lt;p style=&quot;text-align: center; font-family: yui-tmp;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(17, 17, 17);&quot; tag=&quot;span&quot; class=&quot;yui-tag-span yui-tag&quot;&gt;&lt;b&gt;EMPAT PULUH LIMA TAHUN MEMBABARKAN DHAMMA&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p style=&quot;text-align:justify;&quot;&gt;Setelah mencapai Pencerahan Sempurna, 
muncul dalam pikiran-Nya mengenai betapa dalamnya, sungguh halus Dhamma 
yang telah ditemukan-Nya. Ia mempertanyakan apakah manusia dapat 
memahaminya. Namun setelah dengan welas asih-Nya Ia melihat bahwa ada 
manusia yang dapat memahami Dhamma yang ditemukan-Nya, maka Sang Bhagava
 memiliki niat kuat untuk menyebarkan Dhamma. Kemudian Ia berkata: 
“Pintu menuju tiada kematian, Nibbana, sekarang telah tebuka. Akan 
Kubabarkan Dhamma kepada semua makhluk agar mereka yang memiliki 
keyakinan dan pendengaran yang baik bisa sama-sama memetik manfaatnya.”&lt;/p&gt;

&lt;p style=&quot;text-align:justify;&quot;&gt;Setelah memantapkan niat untuk 
mengajarkan Dhamma, Sang Bhagava lalu menimbang-nimbang kepada siapakah 
Ia perlu mengajarkan Dhamma untuk pertama kalinya, siapakah yang akan 
segera memahami Dhamma yang Ia temukan. Lalu Ia berpikir bahwa ….Alara 
Kalama, salah satu guru-Nya adalah orang yang bijaksana, terpelajar, dan
 berpikiran tajam, serta sedikit debu saja di matanya. Jika Ia 
mengajarkan Dhamma pertama kalinya kepadanya, Alara Kalama akan segera 
memahaminya. Namun kemudian Sang Bhagava mengurungkan niat-Nya setelah 
menyadari bahwa Alara Kalama telah meninggal tujuh tahun yang lalu.&lt;/p&gt;

&lt;p style=&quot;text-align:justify;&quot;&gt;Kemudian, Sang Bhagava berpikir tentang 
guru-Nya yang lain, Uddaka Ramaputta, namun lagi-lagi Sang Bhagava 
mengurungkan niat-Nya setelah menyadari bahwa Uddaka Ramaputta telah 
meninggal kemarin malam.&lt;/p&gt;

&lt;p style=&quot;text-align:justify;&quot;&gt;Akhirnya Sang Bhagava memikirkan kelima 
petapa (pancavaggiya) yang melayani-Nya semasa Ia melakukan tapa berat 
di Hutan Uruvela. Dengan Mata Buddha-Nya yang murni melampaui kemampuan 
pandang manusia, Ia mengetahui bahwa mereka tengah berdiam di Taman Rusa
 di Isipatana, di Petirahan Para Waskita, dekat Baranasi. Demikianlah, 
setelah tinggal di Uruvela selama yang dikehendaki-Nya, Ia berjalan 
menuju Baranasi, yang berjarak delapan belas yojana.&lt;/p&gt;Setelah Sang Bhagava mengutus keenam 
puluh siswaNya, Beliau sendiri tetap melanjutkan pembabaran Dhamma tanpa
 kenal lelah selama empat puluh lima tahun. Selama dua puluh tahun 
pertama masa pembabaran Dhamma ini, Sang Bhagava melewatkan masa berdiam
 musim hujan di berbagai tempat. Namun, selama dua puluh lima tahun 
terakhir, Ia melewatkan sebagian besar masa berdiam-Nya di Savatthi. 
Berikut adalah kronologi pembabaran Dhamma oleh Buddha selama empat 
puluh lima tahun.
&lt;p style=&quot;text-align:justify;&quot;&gt;Tahun Pertama (588 S.M)&lt;br&gt;
Tempat kediaman musim hujan:&lt;br&gt;
Migadaya (Taman Rusa), Isipatana, di dekat Baranasi.&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align:justify;&quot;&gt;Peristiwa utama:&lt;br&gt;
Buddha membabarkan sutta pertama Dhammacakkappavattana Sutta, 
Anattalakkhana Sutta, dan Adittapariyaya Sutta; mengalihyakinkan kelima 
petapa (Pancavaggiya); mendirikan Persamuhan (Sangha) Bhikkhu dan Tiga 
Pernaungan (Tisarana); mengalihyakinkan Yasa dan kelima puluh empat 
sahabatnya; mengutus para misionari pertama; mengalihyakinkan ketiga 
puluh pangeran Bhaddavaggiya mengalihyakinkan ketiga Kassapa bersaudara 
beserta seribu orang pengikut mereka.&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align:justify;&quot;&gt;Tahun Kedua Sampai Keempat (587 – 585 S.M)&lt;br&gt;
Tempat kediaman musim hujan:&lt;br&gt;
Veluvanarama (Vihara Hutan Bambu), di dekat Rajagaha.&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align:justify;&quot;&gt;Peristiwa utama:&lt;br&gt;
Buddha memenuhi janji kepada Raja Bimbisara; menerima Vihara Veluvana 
sebagai pemberian dana; menyabdakan Ovada Patimokkha; menunjuk Sariputta
 dan Moggallana sebagai siswa bhikkhu utama (agga savaka); mengunjungi 
Kapilavatthu; mempertunjukkan mukjizat ganda (yamaka patihariya); 
menahbiskan Pangeran Rahula dan Pangeran Nanda; mengukuhkan Raja 
Suddhodana, Ratu Mahapajapati Gotami, serta Yasodhara ke dalam arus 
kesucian; menahbiskan keenam pangeran Sakya; bertemu dengan 
Anathapindika; menerima Vihara Jetavana sebagai pemberian dana; bertemu 
dengan Raja Pasenadi dari Kosala, mendamaikan sengketa antara suku Sakya
 dan Koliya; membabarkan Mahasamaya Sutta.&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align:justify;&quot;&gt;Tahun Kelima (584 S.M)&lt;br&gt;
Tempat kediaman musim hujan:&lt;br&gt;
Kutagarasala (Balairung Puncak), Mahavana, di dekat Vesali.&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align:justify;&quot;&gt;Peristiwa utama:&lt;br&gt;
Wafatnya Raja Suddhodana; Sang Bhagava mengizinkan Ratu Mahapajapati 
Gotami bersama kelima ratus putri untuk menjadi bhikkhuni; mendirikan 
Sangha Bhikkhuni; membabarkan Dakkhinavibanga Sutta.&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align:justify;&quot;&gt;Tahun Keenam (583 S.M)&lt;br&gt;
Tempat kediaman musim hujan:&lt;br&gt;
Mankulapabbata (Bukit Mankula), di dekat Kosambi.&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align:justify;&quot;&gt;Peristiwa utama:&lt;br&gt;
Ratu Khema menjadi bhikkhuni dan kemudian ditunjuk sebagai salah satu 
dari kedua siswi bhikkhuni utama dengan Uppalavanna; Sang Bhagava 
melarang mempertunjukkan mukjizat demi keuntungan pribadi dan harga diri
 mereka sendiri; melakukan mukjizat ganda.&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align:justify;&quot;&gt;Tahun Ketujuh (582 S.M)&lt;br&gt;
Tempat kediaman musim hujan:&lt;br&gt;
Surga Tavatimsa.&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align:justify;&quot;&gt;Peristiwa utama:&lt;br&gt;
Buddha melakukan mukjizat; membabarkan Abhidhamma di Surga Tavatimsa; Sang Bhagava difitnah oleh Cincamanavika.&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align:justify;&quot;&gt;Tahun Kedelapan (581 S.M)&lt;br&gt;
Tempat kediaman musim hujan:&lt;br&gt;
Bhesakalavana (Hutan Bhesakala), di dekat Surmsumaragiri, Distrik Bhagga.&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align:justify;&quot;&gt;Peristiwa utama:&lt;br&gt;
Pangeran Bodhirajakumara mengundang Sang Bhagava ke Kokanada, istana 
barunya, untuk menerima dana makanan; Sang Bhagava membabarkan Punnovada
 Sutta; Punna mengunjungi Sunaparanta.&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align:justify;&quot;&gt;Tahun Kesembilan (580 S.M)&lt;br&gt;
Tempat kediaman musim hujan:&lt;br&gt;
Ghositarãma (Wihar2 Ghosita), Kosambi.&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align:justify;&quot;&gt;Peristiwa utama:&lt;br&gt;
Magandiya membalas dendam; sengketa para bhikkhu di Kosambi.&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align:justify;&quot;&gt;Tahun kesepuluh (579 S.M)&lt;br&gt;
Tempat kediaman musim hujan:&lt;br&gt;
Hutan Rakkhita, di dekat Desa Parileyyaka.&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align:justify;&quot;&gt;Peristiwa utama:&lt;br&gt;
Karena terjadi sengketa yang berkepanjangan di antara para bhikkhu di 
Kosambi, Sang Bhagava akhirnya menyendiri di Hutan Rakkhita, di dekat 
Desa Parileyyaka, ditemani oleh gajah Parileyyaka. Pada penghujung 
kediaman musim hujan tersebut Ananda, atas nama para warga Savatthi, 
mengundang Sang Bhagava untuk kembali ke Savatthi. Para bhikkhu Kosambi 
yang bersengketa tersebut kemudian memohon maaf kepada Sang Bhagava dan 
kemudian menyelesaikan sengketa mereka.&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align:justify;&quot;&gt;Tahun Kesebelas (578 S.M)&lt;br&gt;
Tempat kediaman musim hujan:&lt;br&gt;
Dakkhinagiri, desa tempat tinggal Brahmin Ekanala.&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align:justify;&quot;&gt;Peristiwa utama:&lt;br&gt;
Buddha mengalihyakinkan Brahmin Kasi Bharadvaja; menuju ke Kammasadamma 
di Negeri Kuru serta membabarkan Mahasatipatthana Sutta dan Mahanidana 
Sutta.&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align:justify;&quot;&gt;Tahun Kedua Belas (577 S.M)&lt;br&gt;
Tempat kediaman musim hujan:&lt;br&gt;
Veranja.&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align:justify;&quot;&gt;Peristiwa utama:&lt;br&gt;
Sang Bhagava memenuhi undangan seorang brahmin di Veranja untuk 
melewatkan kediaman musim hujan sana. Sayangnya, waktu itu terjadi 
bencana kelaparan di sana. Akibatnya, Sang Bhagava dan para siswa-Nya 
hanya memperoleh makanan mentah yang biasanya diberikan kepada kuda yang
 dipersembahkan oleh sekelompok pedagang kuda.&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align:justify;&quot;&gt;Tahun Ketiga Belas (576 S.M)&lt;br&gt;
Tempat kediaman musim hujan:&lt;br&gt;
Caliyapabbata (Batu Cadas Caliya).&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align:justify;&quot;&gt;&lt;img class=&quot;yui-img&quot; title=&quot;Selebihnya...&quot; src=&quot;https://chopypaste.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/wordpress/img/trans.gif?m=1207340914g&quot; alt=&quot;&quot;&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align:justify;&quot;&gt;Peristiwa utama:&lt;br&gt;
Setelah melewati kediaman musim hujan, Sang Bhagava menuju ke Bhaddiya 
untuk mengalihyakinkan sang hartawan Mendaka beserta istrinya yaitu 
Candapaduma, putranya yaitu Dhananjaya, menantunya yaitu Sumanadevi, 
pembantunya yaitu Punna, serta Visakha – cucu putrinya yang berumur 
tujuh tahun; mengalihyakinkan Siha, seorang panglima di Vesali yang 
sekaligus merupakan pengikut Nigantha Nataputta; membabarkan Maha 
Rahulovada Sutta.&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align:justify;&quot;&gt;Tahun Keempat Belas (575 S.M)&lt;br&gt;
Tempat kediaman musim hujan:&lt;br&gt;
Vihara Jetavana, Savatthi.&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align:justify;&quot;&gt;Peristiwa utama:&lt;br&gt;
Rahula, putra dari Pangeran Siddhattha yang kini menjadi Buddha, 
menerima penahbisan lanjut; Sang Bhagava membabarkan Cula Rahulovada 
Sutta, Vammika Sutta, dan Suciloma Sutta.&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align:justify;&quot;&gt;Tahun Kelima Belas (574 S.M)&lt;br&gt;
Tempat kediaman musim hujan:&lt;br&gt;
Nigrodharama Nigrodha (Taman Nigrodha), Kapilavatthu.&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align:justify;&quot;&gt;Peristiwa utama:&lt;br&gt;
Wafatnya Raja Suppabuddha, ayah-mertua Pangeran Siddhattha (Sang Buddha).&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align:justify;&quot;&gt;Tahun Keenam Belas (573 S.M)&lt;br&gt;
Tempat kediaman musim hujan:&lt;br&gt;
Kota Alavi.&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align:justify;&quot;&gt;Peristiwa utama:&lt;br&gt;
Sang Bhagava mengalihyakinkan Yaksa Alavaka.&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align:justify;&quot;&gt;Tahun Ketujuh Belas (572 S.M)&lt;br&gt;
Tempat kediaman musim hujan:&lt;br&gt;
Veluvanarama, Kalandakanivapa (suaka alam tempat memberi makan tupai hitam), di dekat Rajagaha.&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align:justify;&quot;&gt;Peristiwa utama:&lt;br&gt;
Buddha membabarkan Singalovada Sutta kepada perumah tangga muda Singalaka.&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align:justify;&quot;&gt;Tahun Kedelapan Belas Sampai Kesembilan Belas (571 – 570 S.M)&lt;br&gt;
Tempat kediaman musim hujan:&lt;br&gt;
Caliyapabbata (Batu Cadas Caliya).&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align:justify;&quot;&gt;Peristiwa utama:&lt;br&gt;
Sang Bhagava memberikan khotbah kepada seorang gadis penenun beserta 
ayahnya; Sang Bhagava mengalihyakinkan Kukkutamitta, sang pemburu dan 
keluarganya.&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align:justify;&quot;&gt;Tahun Kedua Puluh (569 S.M)&lt;br&gt;
Tempat kediaman musint hujan:&lt;br&gt;
Veluvanarama, di dekat Rajagaha.&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align:justify;&quot;&gt;Peristiwa utama:&lt;br&gt;
Buddha menetapkan aturan-aturan Parajika; menunjuk Ananda sebagai 
pengiring tetap; pertemuan pertama dengan Jivaka; mengalihyakinkan 
Angulimala; Sang Bhagava dituduh atas pembunuhan Sundari; meluruskan 
pandangan salah Brahma Baka; menundukkan Nandopananda.&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Tahun Kedua Puluh Satu Sampai Keempat Puluh Empat (568-545 S.M)&lt;br&gt;
Tempat kediaman musim hujan:&lt;br&gt;
Vihara Jetavana dan Vihan Pubbarama, Savatthi.&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align:justify;&quot;&gt;Peristiwa utama:&lt;br&gt;
Kisah mengenai Raja Pukkusati; Sang Bhagava membabarkan Ambattha Sutta; 
penyerahan Vihara Pubbarama sebagai dana; wafatnya Raja Bimbisara; 
Bhikkhu Devadatta berusaha membunuh Sang Bhagava; menjinakkan Gajah 
Nalagiri; Bhikkhu Devadatta menciptakan perpecahan di dalam Sangha; 
meninggalnya Bhikkhu Devadatta; mengalihyakinkan Raja Ajatasattu; 
wafatnya Raja Pasenadi dari Kosala; membabarkan Sakka Pañha Sutta.&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align:justify;&quot;&gt;Tahun Keempat Puluh Lima (544 S.M)&lt;br&gt;
Tempat kediaman musim hujan:&lt;br&gt;
Beluvagamaka, di dekat Vesa1i.&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align:justify;&quot;&gt;Peristiwa utama:&lt;br&gt;
Buddha mengalihyakinkan Upali, siswa utama Nigantha Nataputta; 
membabarkan ketujuh kondisi kesejahteraan bagi para penguasa dunia dan 
para bhikkhu; menyampaikan ceramah Cermin Dhamma; menerima hutan mangga 
dan Ambapali sebagai persembahan dana; wafatnya Sariputta dan 
Moggallana; membabarkan Empat Narasumber Utama (Mahapadesa); menyantap 
sukaramaddava; menerima petapa kelana Subhadda sebagai siswa terakhir; 
Sang Bhagava mencapai Mahaparinibbana.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;color:#0000ff;&quot;&gt;KEGIATAN SEHARI-HARI SANG BHAGAVA&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align:justify;&quot;&gt;Selama empat puluh lima tahun Sang 
Bhagava membabarkan Dhamma dengan semangat. Dan setiap hari Ia melakukan
 kegiatan rutin-Nya tanpa mengenal jenuh.&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align:justify;&quot;&gt;Kegiatan harian yang dilakukan Sang 
Bhagava bisa dibagi ke dalam lima sesi, yaitu: (1) kegiatan pagi 
(purebhatta kicca), (2) kegiatan siang (pacchabhatta kicca), (3) 
kegiatan waktu jaga pertama malam (purimayama kicca), (4) kegiatan waktu
 jaga pertengahan malam (majjhimayama kicca), dan (5) kegiatan waktu 
jaga terakhir malam (pacchimayama kicca).&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align:justify;&quot;&gt;Kegiatan Pagi (sekitar pukul 06.00 – 12.00)&lt;br&gt;
Sang Bhagava bangun pukul 04.00, kemudian setelah mandi Ia bermeditasi 
selama satu jam. Setelah itu pada pukul 05.00, Beliau memindai dunia 
dengan Mata Buddha-Nya untuk melihat siapa yang bisa Ia bantu. Pukul 
06.00, Sang Bhagava menata jubah bawah, mengencangkan ikat pinggang, 
mengenakan jubah atas, membawa mangkuk dana-Nya, lalu pergi menuju ke 
desa terdekat untuk menerima dana makanan. Terkadang Sang Bhagava 
melakukan perjalanan untuk menuntun beberapa orang ke jalan yang benar 
dengan kebijaksanaan-Nya. Setelah menyelesaikan makan sebelum tengah 
hari, Sang Bhagava akan membabarkan khotbah singkat; Ia akan mengukuhkan
 sebagian pendengar dalam Tiga Pernaungan. Kadang Ia memberikan 
penahbisan bagi mereka yang ingin memasuki Persamuhan.&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Kegiatan Siang (sekitar pukul 12.00 – 18.00)&lt;br&gt;
Pada waktu ini, biasanya digunakan oleh Sang Bhagava untuk memberikan 
petunjuk kepada para bhikkhu dan untuk menjawab pertanyaan dari para 
bhikkhu. Setelah itu Sang Bhagava akan kembali ke bilik-Nya untuk 
beristirahat dan memindai seisi dunia untuk melihat siapa yang 
memerlukan pertolongan-Nya. Lalu, menjelang senja, Sang Bhagava menerima
 para penduduk kota dan desa setempat di aula pembabaran serta 
membabarkan khotbah kepada mereka. Saat Sang Bhagava membabarkan Dhamma,
 masing-masing pendengar, walaupun memiliki perangai yang berlainan, 
berpikir bahwa khotbah Sang Bhagava ditujukan secara khusus kepada 
dirinya. Demikianlah cara Sang Bhagava membabarkan Dhamma, yang sesuai 
dengan waktu dan keadaannya. Ajaran luhur dari Sang Bhagava terasa 
menarik, baik bagi khalayak ramai maupun kaum cendekia.&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align:justify;&quot;&gt;Kegiatan Waktu Jaga Pertama Malam (sekitar pukul 18.00 – 22.00)&lt;br&gt;
Setelah para umat awam pulang, Sang Bhagava bangkit dari duduk-Nya pergi
 mandi. Setelah mandi, Sang Bhagava mengenakan jubah-Nya dengan baik dan
 berdiam sejenak seorang diri di bilik-Nya. Sementara itu, para bhikkhu 
akan datang dari tempat berdiamnya masing-masing dan berkmpul untuk 
memberikan penghormatan kepada Sang Bhagava. Kali ini, para bhikkhu 
bebas mendekati Sang Bhagava untuk menghilangkan keraguan mereka, ntuk 
meminta nasihat-Nya mengenai kepelikan Dhamma, untuk mendapatkan objek 
meditasi yang sesuai, dan untuk mendengarkan ajaran-Nya.&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align:justify;&quot;&gt;Kegiatan Waktu Jaga Pertengahan Malam (sekitar pukul 22.00 – 02.00)&lt;br&gt;
Rentang waktu ini disediakan khusus bagi para makhluk surgawi seperti 
para dewa dan brahma dari sepuluh ribu tata dunia. Mereka mendekati Sang
 Bhagava untuk bertanya mengenai Dhamma yang selama ini tengah mereka 
pikirkan. Sang Bhagava melewatkan tengah malam itu sepenuhnya untuk 
menyelesaikan semua masalah dan kebingungan mereka.&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align:justify;&quot;&gt;Kegiatan Waktu Jaga Terakhir Malam (sekitar pukul 02.00 – 06.00)&lt;br&gt;
Rentang waktu ini dipergunakan sepenuhnya untuk Sang Bhagava sendiri. 
Pukul 02.00 sampai 03.00, Sang Bhagava berjalan-jalan untk mengurangi 
penat tubuh-Nya yang menjadi kaku karena duduk sejak fajar. Pukul 03.00 
sampai 04.00, dengan perhatian murni, Ia tidur di sisi kanan-Nya di 
dalam Bilik Harum-Nya. Pada pukul 04.00 sampai 05.00, Sang Bhagava 
bangkit dari tidur, duduk bersilang kaki dan bermeditasi menikmati 
Nibbana.&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align:justify;&quot;&gt;Demikianlah kegiatan harian yang dilakukan oleh Sang Bhagava, yang Ia lakukan sepanjang hidup-Nya.&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;a style=&quot;font-family: yui-tmp;&quot; class=&quot;&quot; href=&quot;http://comensee.yolasite.com/guru/resources/http://bhagavant.com/home.php?link=sejarah&amp;amp;tipe=riwayat_buddha_1&quot; target=&quot;new&quot;&gt;&lt;br&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;
&lt;a style=&quot;font-family: yui-tmp;&quot; class=&quot;&quot; href=&quot;http://comensee.yolasite.com/guru/resources/http://bhagavant.com/home.php?link=sejarah&amp;amp;tipe=riwayat_buddha_1&quot; target=&quot;new&quot;&gt;Sumber &lt;/a&gt;</description>
            <pubDate>Fri, 13 Jul 2012 05:39:57 +0100</pubDate>
        </item>
    </channel>
</rss>
